ayo saling bertukar link

mari kita budayakan saling berbagi di antara blogger. selain berbagi informasi, mari kita juga saling berbagi link atau bisa dibilang saling bertukar link.

bagi yang berminat untuk saling bertukar link silahkan datang kunjungi blog ini, tulis/tinggalkan komentar anda silahkan link blog ini tapi jangan lupa tinggalkan alamat yang jelas yaa biar nanti bisa segera saya link balik dan agar saya tidak tersesat ketika berkunjung ke blog sahabat baru..

Q tunggu kedatangan sahabat baru yang ingin saling bertukar link…………

Risiko yang dihadapi oleh perantara keuangan

Dalam menjalankan kegiatan usahanya sebagai perantara keuangan, aktivitas bank selalu dihadapkan pada risiko-risiko yang dapat mempengaruhi kelancaran sistem keuangan. Risiko-risiko yang dihadapi oleh bank tersebut diantaranya adalah :

1)             Interest risk

Interest risk berkaitan dengan fungsi bank sebagai asset transformation, yaitu membeli primary securities (aset) dan menjual secondary securities (liabilities). Risiko ini akan muncul jika terdapat perbedaan karakter maturitas dan likuiditas antara primary securities dengan secondary securities. Karakter dari primary securities biasanya memiliki maturitas yang lebih panjang dan kurang likuid jika dibandingkan dengan secondary securities. Perbedaan tersebut akan menjadi masalah jika terjadi perubahan suku bunga. Dalam hal ini perantara keuangan bias menghadapi refinancing risk atau reinvestment risk. Refinancing risk adalah risiko yang dihadapi oleh perantara keuangan jika biaya reborrowing dana lebih mahal dari pada pendapatan yang berasal dari aset. Sementara itu, reinvestment risk adalah risiko yang muncul jika return dari investasi turun atau menjadi lebih rendah daripada biaya penghimpunan dana. Refinancing dan reinvestment risk ini muncul karena cash flow dari aset maupun liabilities mengikuti konsep diskonto. Konsekuensinya, jika terjadi kenaikan tingkat suku bunga maka tingkat diskonto juga akan naik dan menurunkan nilai pasar dari aset maupun liabilities dan sebaliknya. Sehingga pada saat suku bunga naik dan ada kesenjangan maturitas, dan kita memegang aset yang memiliki maturitas yang lebih panjang, maka nilai pasar dari aset akan turun dengan porsi yang lebih besar daripada liabilities dan sebaliknya. 

2)             Market Risk

Risiko ini muncul dalam proses asset and liability trading sebagai akibat adanya perubahan tingkat suku bunga, nilai tukar, dan harga-harga aset lainnya. 

3)             Credit Risk

Credit risk dihadapi oleh perantara keuangan jika primary securities yang dimiliki dan kredit yang disalurkan tidak dibayar oleh peminjam atau nasabah. Risiko ini dibedakan menjadi dua, yaitu:

Ø   Risiko spesifik (firm specific credit risk)

Merupakan risiko yang timbul jika perusahaan peminjam tidak dapat membayar pinjamannya karena adanya risiko dalam proyek tersebut. Untuk mengantisipasi risiko spesifik, perantara keuangan bisa melakukan diversivikasi aset dengan cara melakukan investasi ke beberapa industri dalam satu negara. 

Ø   Risiko sistemik (systemic risk)

Risiko sistemik merupakan risiko yang muncul jika perusahaan peminjam tidak dapat membayar pinjamannya karena kondisi ekonomi makro yang tidak baik, seperti krisis ekonomi. Untuk mengantisipasi risiko sistemik, dapat dilakukan dengan melakukan diversifikasi investasi aset ke beberapa Negara.

Ø   Off-balance Sheet Risk

Risiko ini muncul jika perantara keuangan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan sekumpulan aset dan liabilities seperti letter of credit (L/C) ketika perantara keuangan atau bank menerbitkan L/C untuk menjamin pinjaman atau kewajiban nasabahnya maka bank akan mendapatkan bayaran atas jasanya tersebut dan bayaran tersebut akan tercatat sebagai pendapatan dalam laporan laba-rugi. Tetapi, jika nasabah yang dijamin oleh bank tersebut tidak bisa memenuhi kewajibannya maka bank tersebut akan membayarnya, dan ini akan mempengarui neraca bank di masa yang akan datang berupa peningkatan transaksi yang off-balance sheet. 

Ø   Technology Risk

Risiko teknologi akan muncul jika investasi pada teknologi baru tidak memberikan manfaat yang sesuai. Pengembangan teknologi diharapkan mampu menurunkan biaya operasi, meningkatkan  keuntungan, dan meraih pasar baru. Dengan pengembangan teknologi, perantara keuangan bisa mencapai economies of scale dan economies of scope. Economies of scale tercapai jika perantara keuangan mampu menurunkan biaya rata-rata operasi jika output jasa keuangan meningkat. Economies of scope tercapai jika perantara keuangan mampu menciptakan sinergi dalam biaya dengan memproduksi beberapa output.

Ø   Foreign Exchange Risk

Foreign exchange risk muncul karena pengaruh nilai tukar valuta asing terhadap aset dan liabilities dari perantara keuangan. Jika terjadi depresiasi mata uang domestik terhadap mata uang asing, maka sisi liabilities yang didenominasi dalam mata uang asing akan meningkat. Masalah ini dapat diatasi dengan melakukan diversifikasi aset dan liabilities terhadap lebih dari satu mata uang asing.

Ø   Country Risk

Risiko ini berhubungan dengan masalah kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Ø   Liquidity Risk

Risiko ini berkaitan dengan masalah likuiditas dari perantara keuangan (bank) karena ada kemungkinan bagi deposan untuk menarik dana yang mereka simpan melebihi dari biasanya. Sebagai contoh, hal ini dapat terjadi pada saat perekonomian sedang mengalami gejolak ekonomi (seperti fluktuasi nilai tukar) yang menyebabkan para penabung menarik dananya dari bank yang sakit maupun pada bank yang sehat, sehingga menimbulkan bank run. Untuk mengatasi masalah ini, biasanya pemerintah melakukan penjaminan terhadap dana yang disimpan oleh para penabung, karena penjaminan tersebut akan menyebabkan para penabung merasa aman dan mempercayai sistem perbankan. Pemerintah juga dapat bertindak sebagai the lender of the last resort, dengan memberikan bantuan likuiditas kepada bank yang mengalami masalah likuiditas.

Karakteristik Perbankan

Pengertian, fungsi, dan ruang lingkup usaha bank

Bank merupakan lembaga keuangan yang sangat penting dalam perekonomian. Secara umum, bank didefenisikan sebagai lembaga keuangan yang usaha pokoknya adalah menghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit serta memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Menurut undang-undang No. 10 tahun 1998 tentang perbankan, bank merupakan lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali dalam bentuk pinjaman (kredit) dan atau bentuk lainnya dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup orang banyak.

 

Menurut Mishkin (2001: 8), secara sederhana bank merupakan lembaga keuangan yang menerima deposito dan memberikan pinjaman. Ia juga menjelaskan bahwa bank juga merupakan perantara keuangan (financial intermediaries), sehingga menimbulkan interaksi antara orang yang membutuhkan pinjaman untuk membiayai kebutuhan hidupnya, dengan orang yang memiliki kelebihan dana dan berusaha menjaga keuangannya di bank dalam bentuk tabungan dan deposito lainnya.

 

Pengertian bank yang lebih lengkap juga diungkapkan oleh Warjiyo (2006: 431–433), dimana bank merupakan lembaga perantara keuangan yang dalam operasinya menerima simpanan masyarakat dalam bentuk giro, tabungan dan deposito, yang kemudian menanamkan dana simpanan tersebut dalam bentuk penyaluran kredit dan pembiayaan lain kepada dunia usaha maupun bentuk portfolio aset finansial seperti surat-surat berharga yang diterbitkan pemerintah dan bank sentral. Menurut Rose (1995: 5), bank merupakan lembaga keuangan yang menawarkan jasa keuangan terluas—terutama kredit, simpanan, dan jasa pembayaran—dan memerankan fungsi keuangan terluas dalam perekonomian. 

 

Terkait dengan pengertian bank di atas dapat disimpulkan, bahwa fungsi utama bank adalah sebagai financial intermediaries. Seperti yang didefenisikan oleh Auerbach (1989: 65), financial intermediaries merupakan perusahaan yang pendapatannya berasal dari selisih antara yields pada financial assets yang diciptakan dengan financial assets yang dibeli. Financial intermediation merupakan suatu aktivitas penting dalam perekonomian, karena ia menimbulkan aliran dana dari pihak yang tidak produktif kepada pihak yang produktif dalam mengelola dana. Selanjutnya, hal ini akan membantu mendorong perekonomian menjadi lebih efisien dan dinamis (Mishkin, 1999: 10).

 

Menurut Bank Indonesia (2006: 5), fungsi bank sebagai financial intermediaries mencakup tiga hal, yaitu:

1)             Sebagai lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan

2)            Sebagai lembaga yang menyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk kredit; dan

3)            Melancarkan transaksi perdagangan dan peredaran uang

 

Beberapa karakteristik yang membedakan bank dengan non-bank financial intermediaries, menurut Bossone (2001), adalah sebagai berikut:

1)             Bank menciptakan likuiditas dalam bentuk bank’s own liabilities atau surat utang yang dibuat untuk peminjam. Bank tidak melanjutkan likuiditas yang sudah ada, tetapi menambah likuiditas sistem setiap saat bank mengadakan kredit baru kepada perusahaan melalui penciptaan deposit. Sedangkan non-bank financial intermediaries bertindak sebagai capital market intermediaries yang mengumpulkan likuiditas yang sudah ada (bank deposit) dari savers dengan long position dan menginvestasikannya pada investor dengan short position.

2)            Bank memberikan pengetahuan pada peminjamnya (borrowers) tentang operasi harian, kebutuhan likuiditas, aliran pembayaran, juga faktor jangka pendek dan pengembangan product market. Sedangkan non-bank mengembangkan pengetahuan tentang prospek usaha jangka panjang, investasi potensial, trend pasar (market trends), dan perubahan pada faktor fundamental ekonomi.

 

Bank memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian, terutama dalam sistem pembayaran moneter. Dengan adanya bank, aktivitas ekonomi dapat diselenggarakan dengan biaya rendah (Fries dan Taci, 2002). Bank juga memiliki tiga karakteristik khusus yang berbeda dalam fungsinya bila dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. Tiga hal tersebut menurut Guitan dan George (1997), sebagai berikut :

 

Pertama, terkait dengan fungsi bank sebagai lembaga kepercayaan untuk menyimpan dana masyarakat, bank berperan khusus dalam penciptaan uang dan mekanisme sistem pembayaran dalam perekonomian. Keberadaan perbankan memungkinkan berbagai transaksi keuangan dan ekonomi dapat berlangsung lebih cepat, aman, dan efisien.

 

Kedua, sebagai lembaga intermediasi keuangan, perbankan berperan khusus dalam memobilisasikan simpanan masyarakat untuk disalurkan dalam bentuk kredit dan pembiayaan lain kepada dunia usaha. Hal ini akan memperbesar dan mempermudah proses mobilisasi dan alokasi sumber-sumber dana dalam perekonomian.

 

Ketiga, sebagai lembaga penanaman aset finansial, bank memiliki peran penting dalam mengembangkan pasar keuangan, terutama pasar uang dometik dan valuta asing. Bank berperan dalam mentransformasikan aset finansial, seperti simpanan masyarakat  kedalam bentuk aset finansial lain, yaitu kredit dan surat-surat berharga yang dikeluarkan pemerintah dan bank sentral.

 

Ketiga fungsi penting tersebut menempatkan bank pada peran khusus dalam sistem ekonomi, baik dari sisi mikro maupun makro. Dari sisi mikro, bank dibutuhkan sebagai lembaga kepercayaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan menyimpan dana, memperoleh kredit dan pembiayaan lain, maupun dalam melakukan berbagai transaksi ekonomi dan keuangan. Dari sisi makro, bank dibutuhkan karena peran pentingnya dalam proses penciptaan uang dan sistem pembayaran, serta dalam mendorong efektivitas mekanisme transmisi kebijakan moneter dan efisiensi alokasi sumber dana dalam ekonomi (Warjiyo, 2006: 431–433).

 

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, bank memberikan jasa keuangan kepada masyarakat. Jasa-jasa keuangan yang diberikan oleh bank kepada masyarakat menurut Rose (1995: 7–17), adalah:

1)             Jasa bank yang berkembang dalam sejarah

Ø   Carrying out currency exchanges. Berdasarkan sejarah, jasa pertama yang ditawarkan oleh bank kepada masyarakat adalah pertukaran mata uang (currency exchanges)—bank melakukan perdagangan mata uang satu negara (misalkan rupiah) dengan mata uang negara lain (misalkan dollar).

Ø   Discounting commercial notes and making business loans. Bank memberikan pinjaman pada pelaku bisnis yang ingin mendirikan dan memperluas usaha.

Ø   Offering savings deposits. Bank memberikan jasa simpanan dana dengan tujuan untuk meningkatkan dana yang dapat dipinjamkan kembali kepada masyarakat. Layanan simpanan di bank ini disertai bunga dengan periode mingguan, bulanan, atau tahunan, tergantung pada tingginya tingkat suku bunga.

Ø   Safekeeping of valuables. Bank memberikan jasa simpanan barang-barang berharga (seperti emas dan surat-surat  berharga) yang dimiliki oleh masyarakat dengan tujuan keamanan.

Ø   Supporting government activities with credit. Pada periode awal revolusi industri, kemampuan bank dalam menggerakkan sejumlah besar dana dan memberikan pinjaman menarik perhatian pemerintah Eropa dan Amerika. Sehingga pemerintah meminta bank untuk bersedia membeli obligasi pemerintah dengan deposito yang diterima oleh bank. Pada saat itu, dana dari penjualan obligasi dimanfaatkan untuk mendanai perang.

Ø   Offering checking accounts (demand deposits). Demand deposits merupakan deposito bank yang dapat ditarik kembali pada setiap waktu oleh depositor. Jasa ini merupakan salah satu jasa yang sangat penting dalam industri, karena meningkatkan efisiensi proses pembayaran, membuat transaksi usaha menjadi lebih mudah, cepat, dan aman.

Ø   Offering trust services. Bank juga menawarkan jasa personal trust kepada individu serta jasa commercial trust kepada perusahaan dan bisnis lainnya.

 

 

 

2)             Jasa bank yang berkembang saat ini

Ø   Granting consumer loans. Dulu, sebagian besar bank hanya memberikan pinjaman dalam jumlah yang relatif kecil dengan tingkat kegagalan yang relatif tinggi, sehingga aliran dana menjadi kurang menguntungkan. Tetapi, saat ini bank mulai lebih menitikberatkan pada konsumen untuk meningkatkan depositonya agar dapat membantu mendanai pinjaman perusahan–perusahaan besar.

Ø   Financial advising. Para bankir selama ini juga diminta untuk menjadi penasehat keuangan (financial advisor) oleh nasabah bank, terutama ketika akan melakukan kredit, menyimpan, dan menginvestasikan dananya. Saat ini beberapa bank telah menawarkan jasa penasehat keuangan (financial advisory services).

Ø   Cash management. Dalam jasa ini, bank menangani pengumpulan dan pengeluaran uang untuk perusahaan bisnis serta menginvestasikan surplus uang ke dalam sekuritas dengan bunga jangka pendek.

Ø   Offering equipment leasing. Merupakan jasa yang diberikan oleh bank dengan menyewakan barang kepada nasabah bank.

Ø   Making venture capital loans. Bank semakin aktif dalam mendanai biaya pendirian perusahaan-perusahaan baru, terutama dalam industri teknologi tinggi (high-tech industries). Untuk mengurangi risiko, pengelolaan modal perusahaan dilakukan bersama antara anak perusahaan bank induk dengan investor.         

Ø   Selling insurance services. Bank memberikan jasa asuransi jiwa kepada nasabah yang menerima pinjaman, sehingga menjamin pengembalian pinjaman jika nasabah meninggal atau bangkrut.                                                                        

Ø   Selling retirement plans. Bank juga mengelola retirement plans yang disediakan oleh sebagian besar bisnis untuk pekerja mereka yang telah mencapai masa pensiun atau tidak mampu untuk bekerja lagi.

Ø   Offering security brokerage investment services. Bank menawarkan kesempatan kepada nasabahnya untuk membeli saham, obligasi, dan surat berharga individu lainnya tanpa harus mendatangi pedagang sekuritas.

Ø   Offering mutual funds and annuities. Dalam jasa ini, bank menawarkan produk reksadana dan simpanan hari tua. Simpanan hari tua terdiri dari simpanan berjangka panjang yang menjanjikan pembayaran aliran pendapatan bagi pemegangnya. Rekasadana merupakan produk investasi yang dikelola secara profesional  dengan menjual saham, obligasi, dan sekuritas lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

Ø   Offering investment banking and merchant banking services.  Mengidentifikasi target merger yang mungkin, membiayai akuisisi perusahaan lain, menjual surat-surat berharga, dan menawarkan jasa hedging untuk melindungi nasabah dari risiko fluktuasi harga mata uang dan tingkat suku bunga dunia.

Ø   Convenience: the sum total of all bank services. Setiap saat bank melakukan berbagai inovasi terhadap produk dan jasa yang ditawarkan kepada nasabahnya. Usaha ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan, tetapi juga untuk meningkatkan  kepuasan nasabahnya, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan.

Sistematika penulisan

Dalam penelitian ini penulisan akan dibagi ke dalam beberapa bagian, yaitu:

Bab I.     Pendahuluan

Pada bagian ini dibahas mengenai gambaran umum dari permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian. Pada bagian ini juga dijelaskan tujuan, manfaat, hipotesis, dan metode penelitian yang akan digunakan dalam menganalisis permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini.

 

Bab II.   Landasan Teori

Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa penelitian sebelumnya yang menjadi dasar dan acuan dalam penelitian ini. Teori-teori dan metode analisis pada penelitian-penelitian sebelumnya sangat membantu penulis dalam mengembangkan metode penyelesaian masalah pada penelitian ini.

 

Bab III.  Krisis Perbankan dan Perkembangan Perbankan Di Indonesia

Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai variabel-variabel yang akan dianalisis dalam penelitian ini. Variabel-variabel yang akan dianalisis ini berkaitan dengan indikator kinerja perbankan, kondisi makroekonomi di Indonesia, dan variabel-variabel lainnya yang terkait.

 

Bab IV. Analisis Pengaruh Meningkatnya Kepemilikan Asing Terhadap Kinerja Bank

Pada bagian ini data-data yang telah dijelaskan pada BAB III akan analisis secara empirik dengan menggunakan metode analisis data panel, yaitu dengan pendekatan fixed effect. Dari analisis empirik diperoleh hasil bagaimana pengaruh foreign share terhadap 6 indikator kinerja perbankan, dimana peneliti juga memasukkan variabel makroekonomi sebagai independent variabel selain foreign share.

 

Bab V.   Penutup

Pada bagian ini dibahas perkembangan industri perbankan yang dibagi ke dalam 3 periode perkembangan, yaitu periode sebelum krisis (1988–Juli 1997), masa krisis (1997–1998), dan setelah krisis (1999–sekarang). Secara umum krisis perbankan dijadikan sebagai media untuk menjelaskan perkembangan perbankan Indonesia dan foreign share dalam industri perbankan. hal tersebut dikarenakan krisis perbankan merupakan salah satu kejadian penting dalam perkembangan industri perbankan di Indonesia.

Pengaruh Meningkatnya Kepemilikan Asing pada Aset Total Bank Terhadap Kinerja Bank Swasta Nasional di Indonesia.

Kebijakan pemerintah pasca krisis perbankan 1997 yang semakin membuka jalan liberalisasi dalam sektor finansial berpengaruh besar bagi perkembangan sektor perbankan di Indonesia. Investasi asing menjadi salah satu sumber pembiayaan utama dalam sektor perbankan. Perusahaan asing menjadi salah satu pihak yang berperan besar dalam sektor perbankan nasional melalui kepemilikan saham perbankan. Kepemilikan pihak asing terhadap aset perbankan nasional didukung oleh peraturan pemerintah RI nomor 29 tahun 1999, yang memperbolehkan pihak asing untuk menguasai saham bank umum hingga 99 persen. Dengan dikeluarkannya peraturan tersebut, semakin memberikan kemudahan bagi  pihak asing untuk mendominasi perbankan di Indonesia.

 

Masuknya investasi asing dalam industri perbankan, khususnya bank-bank swasta di Indonesia tentunya mempengaruhi kinerja industri perbankan di Indonesia, khususnya terhadap bank-bank swasta nasional yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pihak asing. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kepemilikan asing pada bank domestik di negara–negara berkembang berperan penting dalam meningkatkan produktivitas bank tersebut. Apakah hal tersebut juga berlaku pada industri perbankan di Indonesia.

proposal skripsi

Latar belakang masalah

Bank merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di sektor finansial, perbankan, pasar modal, dan asuransi. Di dalam setiap sektor bank memiliki peran penting terkait dengan fungsi bank sebagai lembaga intermediasi. Bank  memiliki tujuan jangka pendek yaitu  melaksanakan fungsi intermediasi dan tujuan jangka panjang yaitu sustainabilitas usaha. Sebagai suatu perusahaan, perbankan merupakan bisnis yang kompetitif, karena banyak perusahaan yang bergerak dan bersaing ketat dalam industri perbankan dalam meraih kepercayaan masyarakat.

 

Perkembangan industri perbankan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari berbagai kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Diantara kebijakan pemerintah dalam industri perbankan, yaitu kebijakan deregulasi perbankan. Kebijakan deregulasi perbankan merupakan suatu upaya yang bertujuan untuk membangun suatu sistem perbankan yang sehat, efisien, dan tangguh. Pada tahap awal deregulasi, yaitu pada tahun 1983 iklim persaingan antar bank berhasil ditingkatkan, karena adanya penghapusan pagu kredit dan bank bebas menetapkan suku bunga kredit, tabungan, dan deposito.[1]

 

Persaingan semakin meningkat ketika pemerintah kemudian mengeluarkan paket kebijakan deregulasi perbankan pada tahun 1988 (Pakto ’88), dimana izin perluasan usaha di bidang perbankan lebih dipermudah dengan persyaratan modal ringan. Salah satu kebijakan mendasar dalam Pakto ’88 adalah pemberian izin bagi bank devisa hanya dengan syarat kesehatan dan aset bank telah mencapai minimal Rp 100 juta. Dengan dikeluarkannya paket kebijakan ini, ekspansi di bidang perbankan menjadi semakin pesat. Jumlah bank di Indonesia meningkat dari 148 (pada 1989) menjadi 203 (pada 1992). Pertumbuhan kredit perbankan 40–50 persen pada tahun 1990–91 (Nopirin, 1997). Krisis perbankan yang mulai muncul pada periode 1992–93 terjadi karena meningkatnya kredit macet yang menimbulkan beban kerugian pada bank dan berdampak menurunnya keinginan bank untuk melakukan ekspansi kredit. Setelah diberlakukannya Pakmei 1993, sejak tahun 1994 perekonomian Indonesia mengalami economic booming, dan keadaan ini mampu menarik perhatian investor asing.[2] Economic booming di Indonesia juga diikuti oleh pertumbuhan kredit perbankan dalam waktu yang sangat singkat dan melewati batas yang dapat menimbulkan tekanan yang berat pada sektor moneter. Kredit perbankan yang mengalir deras dalam jumlah besar di berbagai sektor usaha yang tidak disertai oleh jaminan pengembalian yang kuat membuat kondisi ekonomi semakin memanas dan inflasi meningkat.

 

Kondisi krisis dalam industri perbankan nasional semakin diperkuat oleh gejolak nilai tukar rupiah yang terjadi pada awal Juli 1997. Depresiasi rupiah semakin memperburuk kondisi industri perbankan nasional, hal ini disebabkan oleh meningkatnya biaya operasional secara signifikan, non performing loan (NPL) yang tinggi, negative spread yang semakin parah, menurunnya likuiditas perbankan, dan adanya pelanggaran legal lending limit (Pramono, 2006). Permasalahan-permasalahan tersebut telah menimbulkan krisis kpercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional.

 

Krisis perbankan pada pertengahan 1997 membawa perubahan besar bagi industri perbankan. Perubahan besar terlihat pada pelonggaran atau penghapusan terhadap batasan investasi langsung (FDI) dalam sektor finansial. Seperti yang diungkapkan oleh Goldberg (2007: 1), bahwa pada tahun 1990–an FDI merupakan sumber pembiayaan eksternal terbesar bagi negara–negara sedang berkembang. Sebelum krisis terjadi terdapat hambatan masuknya investasi dari negara luar. Pada saat krisis finansial terjadi, negara–negara ASEAN kecuali Malaysia melakukan penghapusan terhadap hambatan FDI ke Asia. Sehingga terjadi peningkatan yang signifikan terhadap partisipasi bank asing dan market share. Di Indonesia dan Thailand, kepemilikan asing dalam perbankan mengalami peningkatan berganda sejak terjadinya krisis. Pada 1997 total aliran FDI yang masuk ke 4 negara ASEAN (Singapura, Thailand, Indonesia, dan Filipina) adalah sebesar US$ 25,7 milyar (Chua, 2003: 3). Pelonggaran terhadap batasan investasi asing dalam sektor finansial ini merupakan salah satu faktor utama masuknya kepemilikan asing dalam sektor perbankan di Indonesia. 

Berikut perkembangan kepemilikan asing terhadap aset bank domestik di beberapa negara–negara ASEAN:

Tabel 1.2

Kepemilikan asing terhadap aset bank dometik di negara ASEAN, 1990&2001

 

                         1990

2001

% Kepemilikan asing

Aset bank asing

(US$ juta)

% Kepemilikan asing

Aset bank asing

(US$ juta)

Singapore

50,8

39,0

44,4

92,2

Filipina

24,2

11,6

18,2

34,6

Malaysia

12,3

19,3

24,8

59,7

Thailand

4,7

3,6

17,6

25,5

Indonesia

4,4

3,1

10,4

10,4

Total

96,4

76,6

115,4

222,4

Sumber: Chua Hak Bin, 2003. FDI in the financial sector: the experience of ASEAN countries over the last decade, Monetary authority of Singapore.

 

Pada tabel di atas, peningkatan yang cukup besar terjadi di negara Thailand dan Indonesia. Peningkatan tersebut disebabkan oleh pelonggaran terhadap hambatan investasi pada sektor perbankan di kedua negara. Indonesia merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang paling terbuka terhadap investasi asing dalam sektor finansial, dengan tidak adanya hambatan kepemilikan asing dalam perekonomian, salah satunya pada sektor perbankan (Chua, 2003: 10).

 

Krisis perbankan 1997 membawa perubahan bagi industri perbankan di sebagian besar negara–negara Asia, salah satunya di Indonesia. Pada saat terjadi krisis perbankan, pemerintah melakukan penghapusan terhadap hambatan masuk FDI ke Indonesia. Kelonggaran ini menjadi kesempatan masuknya kepemilikan asing di sektor perbankan Indonesia yang kemudian mengalami peningkatan hingga saat ini. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa masuknya FDI yang meningkatkan kepemilikan pihak asing dalam sektor perbankan, terutama di negara sedang berkembang memberi dampak positif  terhadap produktifitas bank lokal yang dimiliki oleh pihak asing. Chang (2006), melakukan penelitian terhadap pengaruh FDI pada perusahaan domestik China, dari penelitiannya ditemukan bahwa perusahaan domestik yang dimiliki oleh pihak asing di China lebih produktif dari perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak asing. Meningkatnya produktivitas perusahaan domestik disebabkan oleh efek penyebaran (spillover) manfaat dari FDI, baik secara vertikal (vertical spillover) maupun horiozontal (horizontal spillover) (Peter et al., 2004: 8).

 

Liberalisasi sektor finansial yang meningkatkan aliran investasi asing ke sektor perbankan Indonesia juga membawa pengaruh terhadap perkembangan sektor perbankan nasioal. Salah satu perubahan pada sektor perbankan akibat liberalisasi terlihat pada peningkatan peran pihak asing dalam perkembangan bank nasional. Kondisi krisis mendorong pemerintah untuk menetapkan kebijakan agar lebih terbuka terhadap investasi asing. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menyembuhkan perekonomian Indonesia akibat krisis membuat investasi asing memiliki peran penting dalam membantu proses pemulihan perekonomian, khususnya sektor perbankan Indonesia.

 

Bentuk usaha lain dari pemerintah untuk mencegah semakin terpuruknya sistem perbankan akibat krisis perbankan 1997, adalah dengan melakukan program stabilisasi dan reformasi menyeluruh. Depresisasi kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional menyebabkan terjadinya penarikan dana secara besar-besaran oleh masyarakat. Sehingga banyak bank yang mengalami krisis likuiditas (mismatch), yang disertai oleh krisis likuiditas perekonomian secara keseluruhan (liquidity crunch). Dampak dari krisis likuiditas pada perbankan ini adalah dilakukannya likuidasi (pencabutan izin usaha) terhadap 16 bank oleh pemerintah pada tanggal 1 November 1997.[3] Selain melakukan likuidasi terhadap 16 bank, pemerintah juga membekukan operasi 67 bank swasta nasional yang dilakukan sejak 1997–2000, bank take over (pemerintah mengambil alih kepemilikan 13 bank swasta nasional), melakukan merger terhadap 4 bank pemerintah menjadi Bank Mandiri dan 9 bank take over menjadi Bank Danamon, serta melakukan program rekapitalisasi (total biaya rekapitalisasi hingga akhir 2001 adalah Rp 660 triliun  atau 73 persen dari PDB).[4]

 

Salah satu program pemerintah dalam proses pemulihan iklim perbankan adalah program rekapitalisasi perbankan. Rekapitalisasi merupakan suatu program darurat penyuntikan modal agar bank sakit memenuhi kriteria tertentu untuk tetap hidup. Kriteria tersebut adalah pemenuhan ketentuan capital adequacy ratio (CAR), yang menunjukkan rasio modal dengan aktiva tetap menurut risiko (ATMR). Program ini merupakan bagian dari paket restrukturisasi perbankan yang bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan permodalan sektor perbankan sehingga dapat menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik. Berdasarkan hasil peninjauan yang mengikutsertakan peninjau independen dari IMF, Bank Dunia, dan ADB (Bank Pembangunan Asia), diputuskan bahwa semua bank BUMN ikut dalam program rekapitalisasi. Divestasi pertama dilakukan pada Bank Central Asia (BCA) pada 14 Maret 2002, sehingga 51 persen saham BCA dimiliki oleh Farallon Capital Management LLC. Program divestasi terhadap investor asing selanjutnya tidak hanya dilakukan pada bank-bank swasta nasional lainnya yang direkapitalisasi (Bank Central Asia (BCA), Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia (BII), Bank Niaga, LippoBank, dan PermataBank) tapi juga pada bank swasta nonrekap (Bank NISP, Bank Buana, Bank Bumiputera, dan Bank Century).

 

Program divestasi telah mendorong berkembangnya kepemilikan asing terhadap aset di industri perbankan di Indonesia, sehingga persaingan perbankan di Indonesia saat ini sudah menembus batas-batas kepemilikan. Bank-bank swasta yang didivestasi sudah dimiliki pihak asing, tapi statusnya masih bank swasta. Diantara alasan yang mempengaruhi investor asing untuk membeli saham bank-bank di Indonesia (InfoBank: 2005), adalah:

1.            Harga saham bank rekap terlalu murah dan tanpa risiko karena masih memiliki obligasi rekap, serta tingkat keuntungan bank-bank di Indonesia relatif besar

2.            Pasar perbankan di Indonesia masih relatif besar, khususnya pasar kredit konsumen yang luas, karena penduduk dan potensinya

3.            Pasar perbankan, khususnya pasar Singapura mulai sulit berkembang dan Indonesia merupakan bagian dari strategi besar Singapura di Asia Pasifik. 

 

Tabel 1. 1

Kepemilikan saham silang di industri perbankan Indonesia

 

No.

 

Pemegang Saham

 

Nama Bank

Persentase Kepemilikan (%)

Aset

DPK

Kredit

 

30 September 2005 (Juta Rupiah)

1

Negara Republik Indonesia

PT Bank Negara Indonesia

99,11

147.675.083

111.767.759

63.190.696

 

(termasuk kepemilikan via.

PT Bank Rakyat Indonesia

58,93

113.397.161

90.201.088

72.738.021

 

Menteri keuangan atau PT.PPA)

PT Bank Tabungan Negara

100,00

27.936.066

18.149.076

14.495.634

 

 

PT Bank Mandiri Tbk.

69,19

250.341.203

186.450.397

106.682.952

 

Total/rata-rata

 

 

539.349.513

406.568.320

257.107.310

2

Temasek Group

 

 

 

 

 

 

Asia Financial (Indonesia) Pte. Ltd.

PT. Bank Danamon Tbk.

69,62

65.978.695

43.386.861

36.515.520

 

Sorak Financial Holding Pte. Ltd.

PT. Bank International Indonesia Tbk.

56,79

49.174.347

35.995.668

21.223.921

 

The Development Bank of Singapore Ltd.

PT. Bank DBS Indonesia

99,00

9.588.371

5.913.216

5.706.6.1

 

Total/Rata-rata

 

 

124.741.413

85.295.745

63.446.042

3

Standard Chartered

Standard Chartered Bank

100,00

24.906.501

15.514.123

8.193.593

 

 

PT.  Bank Permata Tbk.

31,55

33.697.327

26.404.143

21.550.598

 

Total/Rata-rata

 

 

58.603.828

41.918.266

29.744.042

4

United Overseas Bank Ltd. Singapura

PT. Bank UOB Indonesia

99,00

3.198.027

2.258.446

1.584.657

 

 

PT. Bank Buana Indonesia Ltd.

53,00

15.857.781

12.391.002

10.219.362

 

Total/Rat-rata

 

 

19.055.808

14.650.448

11.804.019

5

OCBC Overseas Investment Pte. Ltd.

PT. Bank OCBC Indonesia

99,00

2.082.328

771.987

998.763

 

 

PT. Bank NISP Tbk.

70,66

19.576.031

15.625.401

12.611.689

 

Total/Rata-rata

 

 

21.658.359

16.397.388

13.610.452

6

Khazanah Nasional Berhad

 

 

 

 

 

 

Commerce Asset – Holding Berhad

PT. Bank Niaga Tbk.

63,35

39.274.654

30.658.464

27.871.314

 

Santubong Investment BV

PT. Bank Lippo Tbk.

52,05

27.532.632

7.351.970

24.205.129

 

Total/Rata-rata

 

 

66.807.286

38.010.434

52.076.443

7

PT.Aditirta Suryasentosa

PT.Bank Haga

40,00

3.035.704

2.713.813

1.783.423

 

PT.Antarindo Optima

PT. Bank Hagakita

40,00

987.281

864.750

728.663

 

PT.Antariksabuana Citanegara

 

20,00

 

 

 

 

Total/Rata-rata

 

 

4.022.985

3.578.563

2.512.086

Sumber: Investor, 139, 24 Januari–6 Februari 2006

 

Dominasi pihak asing yang semakin meningkat ini membuat para pemodal asing tersebut menjadi pemilik mayoritas di beberapa bank nasional. Investor asal Singapura dan Malaysia merupakan pemilik mayoritas di beberarapa bank di Indonesia. Pada 30 September 2005, Temasek Group (perusahaan investasi dari Singapura) menguasai 69,62 persen saham PT Bank Danamon Tbk, 56,79 persen saham paad PT Bank Internasional Indonesia Tbk, dan 99,00 persen  saham pada PT Bank DBS Indonesia Tbk. Sementara itu Khazanah Nasional Berhad  (lembaga keuangan dari Malaysia) menguasai 63,35 persen saham pada PT Bank Niaga Tbk, dan 52,05 persen saham pada PT Bank Lippo Tbk. Kepemilikan aset bank nasional oleh pihak asing menjadi semakin meningkat sejak dikeluarkannya peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 10 tahun 1999 tentang pembelian saham bank umum. Di dalam peraturan tersebut, pihak asing diperbolehkan memiliki saham pada bank nasional hingga 99 persen dari jumlah saham pada bank tersebut.  

Seperti yang terlihat pada tabel 1.1, bahwa satu perusahaan asing bisa menguasai lebih dari satu bank nasional. Seperti Temasek Group (pemegang saham mayoritas pada PT Bank Danamon Tbk. dan PT. Bank Internasional Indonesia Tbk.) dan Khazanah Nasional Berhard (pemegang saham mayoritas pada PT Bank Niaga Tbk. dan PT Bank Lippo Tbk.). Hal tersebut menunjukkan adanya kemudahan bagi pihak asing untuk menjadi pemilik mayoritas diperbankan nasional pada saat itu. Keberadaan pihak asing dalam perbankan nasional tentunya memberikan pengaruh bagi perkembangan perbankan di Indonesia, baik pengaruh positif ataupun negatif.

Fenomena semakin meningkatnya kepemilikan asing terhadap aset perbankan di beberapa bank di Indonesia ini menarik untuk diteliti, sebagian pihak menganggap bahwa keberadaan pihak asing dalam industri perbankan nasional perlu dibatasi. Namun, berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa untuk negara–negara berkembang pihak asing berperan dalam meningkatkan produktivitas perbankan domestik. Jika dengan semakin meningkatnya kepemilikan asing dalam perbankan domestik mampu meningkatkan produktivitas bank yang didominasi asing, kemudian mengapa dibutuhkan pembatasan terhadap kepemilikan asing dalam industri perbankan domestik. Apakah kepemilikan asing terhadap aset perbankan di Indonesia yang semakin meningkat juga meningkatkan kinerja dan produktivitas perbankan nasional. Penelitian ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan–pertanyaan tersebut. Dengan dilakukannya penelitian terhadap kondisi ini akan diketahui pengaruh meningkatnya kepemilikan asing terhadap kinerja industri perbankan di Indonesia. Kepemilikan terhadap aset perbankan menentukan kemampuan bank-bank di Indonesia untuk dapat bertahan dalam persaingan domestik maupun asing. Selain itu dengan dilakukannya penelitian terhadap permasalahan ini, akan diketahui perlu atau tidaknya pemerintah melakukan pembatasan terhadap liberalisasi perbankan.



[1] Berdasarkan pada sejarah perbankan dalam Cyber Museum BI, www.bi.go.id.

[2] Berdasarkan pada sejarah perbankan dalam Cyber Museum BI, www.bi.go.id

 

[3] Berdasarkan pada Sejarah Perbankan dalam Cyber Museum BI, www.bi.go.id. Keputusan likuidasi diambil untuk mencegah semakin meluasnya krisis perbankan (systemic risk) dan besarnya risiko yang ditanggung masyarakat (economic cost).

[4] Makalah Seminar Privatisasi dan “Corporate Governance” yang disampaikan oleh Sigit Pramono (Direktur Utama Bank BNI), Dies Natalis Ke–51 FE UGM & Ke–11 MEP UGM.

  Baca lebih lanjut

Komunikasi dalam Interaksi

            Manusia menggunakan bahasa dan simbol dalam berkomunikasi, tanpa adanya komunikasi, suatu masyarakat tidak mungkin terbentuk, pewarisan kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya tidak mungkin terjadi serta tidak akan ditemukan interaksi antar manusia. Selanjutnya secara bersama-sama, manusia menciptakan alat-alat, bahasa, menganut nilai-nilai serta membentuk lembaga yang memberikan kemudahan dalam merealisasikan kehidupannya. Menurut Horton, kemunculan lembaga bukanlah sesuatu yang direncanakan dalam kehidupan sosial, melainkan secara naluriah manusia mencari cara termudah dalam upaya memenuhi tuntutan kehidupannya. Kemudian dari perulangan-perulangan kegiatan tersebut ditemukan pola-pola yang kemudian dibakukan keberadaannya didukung oleh pemberlakuan sanksi apabila pola tersebut dilanggar.

            Salah satu upaya manusia dalam rangka merealisasikan kehidupannya adalah melalui penciptaan bahasa dalam berkomunikasi, yang berlaku sebagai perangkat dalam membangun simbol-simbol  yang dipakai untuk memahami dan mendalami seluruh aspek kehidupan. Di lain pihak, Berger melihat komunikasi sebagai institusi yang memelihara kelangsungan eksistensi institusi-institusi lain dalam masyarakat. Melalui komunikasi, seorang anak diperkenalkan pada kehidupan masyarakat termasuk objektifitas dan kekuatan realitas sosial.

            Whorf  mengemukakan tentang fungsi komunikasi sebagai determinan ide-ide manusia, pemikiran dan persepsinya. Maka ketika seorang anak mempelajari komunikasi, secara simultan iapun memperoleh ”a world view”  karena komunikasi menentukan cara bagimana seseorang memandang dunianya melalui simbol-simbol yang merupakan instrumen pemikiran.Bahasa sebagai sistem komunikasi simbolik membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya, sebab dalam membangun dunia kehidupannya, komunikasi berlaku sebagai perangkat dalam membentuk simbol-simbol untuk memahami dan mendalami seluruh aspek kehidupan.

            Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat melepaskan diri dari lingkaran kolektifnya. Bahkan ia akan kehilangan martabat kemanusiaannya, apabila dikucilkan secara total dari manusia-manusia lain. Upaya manusia dalam membangun dunia kehidupannyapun merupakan aktivitas kolektif. Melalui komunikasi, manusia merasakan kebersamaan sebagai anggota masyarakat. Mereka mendapatkan pengetahuan melalui proses komunikasi ini, karena di dalamnya terdapat pertukaran ide-ide pemikiran. Pada proses yang mensyaratkan adanya: (1) sumber informasi; (2) pengiriman pesan; (3) isi pesan yang disampaikan; (4) penerimaan pesan, serta; (5) reaksi yang diberikan oleh penerima pesan, ini juga merupakan dasar bagi interaksi manusia yang akan membentuk dan memelihara hubungan sosial. Komunikasi adalah cara sekaligus ciri yang sangat penting dalam proses masuknya manusia ke dalam dunia kehidupan sosialnya. Secara singkat, komunikasi menjadi media yang sangat menentukan sebagian besar gagal atau berhasilnya proses sosialisasi, maka komunikasi memegang peran penting dalam proses sosialisasi. 



Hall, Psychology Today: an Introduction, Random House, New York, 1983. hal. 23

Berger, Reading in Sociology,  Basic Books, New York, 1974. hal. 17, hal. 20

Cassirer, Manusia dan Kebudayaan, Gramedia, Jakarta, 1990. hal. 47

Littlejohn, Theories of Human Communication, Wodsworth Inc, California, 1983. hal. 55