proposal skripsi

Latar belakang masalah

Bank merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di sektor finansial, perbankan, pasar modal, dan asuransi. Di dalam setiap sektor bank memiliki peran penting terkait dengan fungsi bank sebagai lembaga intermediasi. Bank  memiliki tujuan jangka pendek yaitu  melaksanakan fungsi intermediasi dan tujuan jangka panjang yaitu sustainabilitas usaha. Sebagai suatu perusahaan, perbankan merupakan bisnis yang kompetitif, karena banyak perusahaan yang bergerak dan bersaing ketat dalam industri perbankan dalam meraih kepercayaan masyarakat.

 

Perkembangan industri perbankan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari berbagai kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Diantara kebijakan pemerintah dalam industri perbankan, yaitu kebijakan deregulasi perbankan. Kebijakan deregulasi perbankan merupakan suatu upaya yang bertujuan untuk membangun suatu sistem perbankan yang sehat, efisien, dan tangguh. Pada tahap awal deregulasi, yaitu pada tahun 1983 iklim persaingan antar bank berhasil ditingkatkan, karena adanya penghapusan pagu kredit dan bank bebas menetapkan suku bunga kredit, tabungan, dan deposito.[1]

 

Persaingan semakin meningkat ketika pemerintah kemudian mengeluarkan paket kebijakan deregulasi perbankan pada tahun 1988 (Pakto ’88), dimana izin perluasan usaha di bidang perbankan lebih dipermudah dengan persyaratan modal ringan. Salah satu kebijakan mendasar dalam Pakto ’88 adalah pemberian izin bagi bank devisa hanya dengan syarat kesehatan dan aset bank telah mencapai minimal Rp 100 juta. Dengan dikeluarkannya paket kebijakan ini, ekspansi di bidang perbankan menjadi semakin pesat. Jumlah bank di Indonesia meningkat dari 148 (pada 1989) menjadi 203 (pada 1992). Pertumbuhan kredit perbankan 40–50 persen pada tahun 1990–91 (Nopirin, 1997). Krisis perbankan yang mulai muncul pada periode 1992–93 terjadi karena meningkatnya kredit macet yang menimbulkan beban kerugian pada bank dan berdampak menurunnya keinginan bank untuk melakukan ekspansi kredit. Setelah diberlakukannya Pakmei 1993, sejak tahun 1994 perekonomian Indonesia mengalami economic booming, dan keadaan ini mampu menarik perhatian investor asing.[2] Economic booming di Indonesia juga diikuti oleh pertumbuhan kredit perbankan dalam waktu yang sangat singkat dan melewati batas yang dapat menimbulkan tekanan yang berat pada sektor moneter. Kredit perbankan yang mengalir deras dalam jumlah besar di berbagai sektor usaha yang tidak disertai oleh jaminan pengembalian yang kuat membuat kondisi ekonomi semakin memanas dan inflasi meningkat.

 

Kondisi krisis dalam industri perbankan nasional semakin diperkuat oleh gejolak nilai tukar rupiah yang terjadi pada awal Juli 1997. Depresiasi rupiah semakin memperburuk kondisi industri perbankan nasional, hal ini disebabkan oleh meningkatnya biaya operasional secara signifikan, non performing loan (NPL) yang tinggi, negative spread yang semakin parah, menurunnya likuiditas perbankan, dan adanya pelanggaran legal lending limit (Pramono, 2006). Permasalahan-permasalahan tersebut telah menimbulkan krisis kpercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional.

 

Krisis perbankan pada pertengahan 1997 membawa perubahan besar bagi industri perbankan. Perubahan besar terlihat pada pelonggaran atau penghapusan terhadap batasan investasi langsung (FDI) dalam sektor finansial. Seperti yang diungkapkan oleh Goldberg (2007: 1), bahwa pada tahun 1990–an FDI merupakan sumber pembiayaan eksternal terbesar bagi negara–negara sedang berkembang. Sebelum krisis terjadi terdapat hambatan masuknya investasi dari negara luar. Pada saat krisis finansial terjadi, negara–negara ASEAN kecuali Malaysia melakukan penghapusan terhadap hambatan FDI ke Asia. Sehingga terjadi peningkatan yang signifikan terhadap partisipasi bank asing dan market share. Di Indonesia dan Thailand, kepemilikan asing dalam perbankan mengalami peningkatan berganda sejak terjadinya krisis. Pada 1997 total aliran FDI yang masuk ke 4 negara ASEAN (Singapura, Thailand, Indonesia, dan Filipina) adalah sebesar US$ 25,7 milyar (Chua, 2003: 3). Pelonggaran terhadap batasan investasi asing dalam sektor finansial ini merupakan salah satu faktor utama masuknya kepemilikan asing dalam sektor perbankan di Indonesia. 

Berikut perkembangan kepemilikan asing terhadap aset bank domestik di beberapa negara–negara ASEAN:

Tabel 1.2

Kepemilikan asing terhadap aset bank dometik di negara ASEAN, 1990&2001

 

                         1990

2001

% Kepemilikan asing

Aset bank asing

(US$ juta)

% Kepemilikan asing

Aset bank asing

(US$ juta)

Singapore

50,8

39,0

44,4

92,2

Filipina

24,2

11,6

18,2

34,6

Malaysia

12,3

19,3

24,8

59,7

Thailand

4,7

3,6

17,6

25,5

Indonesia

4,4

3,1

10,4

10,4

Total

96,4

76,6

115,4

222,4

Sumber: Chua Hak Bin, 2003. FDI in the financial sector: the experience of ASEAN countries over the last decade, Monetary authority of Singapore.

 

Pada tabel di atas, peningkatan yang cukup besar terjadi di negara Thailand dan Indonesia. Peningkatan tersebut disebabkan oleh pelonggaran terhadap hambatan investasi pada sektor perbankan di kedua negara. Indonesia merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang paling terbuka terhadap investasi asing dalam sektor finansial, dengan tidak adanya hambatan kepemilikan asing dalam perekonomian, salah satunya pada sektor perbankan (Chua, 2003: 10).

 

Krisis perbankan 1997 membawa perubahan bagi industri perbankan di sebagian besar negara–negara Asia, salah satunya di Indonesia. Pada saat terjadi krisis perbankan, pemerintah melakukan penghapusan terhadap hambatan masuk FDI ke Indonesia. Kelonggaran ini menjadi kesempatan masuknya kepemilikan asing di sektor perbankan Indonesia yang kemudian mengalami peningkatan hingga saat ini. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa masuknya FDI yang meningkatkan kepemilikan pihak asing dalam sektor perbankan, terutama di negara sedang berkembang memberi dampak positif  terhadap produktifitas bank lokal yang dimiliki oleh pihak asing. Chang (2006), melakukan penelitian terhadap pengaruh FDI pada perusahaan domestik China, dari penelitiannya ditemukan bahwa perusahaan domestik yang dimiliki oleh pihak asing di China lebih produktif dari perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak asing. Meningkatnya produktivitas perusahaan domestik disebabkan oleh efek penyebaran (spillover) manfaat dari FDI, baik secara vertikal (vertical spillover) maupun horiozontal (horizontal spillover) (Peter et al., 2004: 8).

 

Liberalisasi sektor finansial yang meningkatkan aliran investasi asing ke sektor perbankan Indonesia juga membawa pengaruh terhadap perkembangan sektor perbankan nasioal. Salah satu perubahan pada sektor perbankan akibat liberalisasi terlihat pada peningkatan peran pihak asing dalam perkembangan bank nasional. Kondisi krisis mendorong pemerintah untuk menetapkan kebijakan agar lebih terbuka terhadap investasi asing. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menyembuhkan perekonomian Indonesia akibat krisis membuat investasi asing memiliki peran penting dalam membantu proses pemulihan perekonomian, khususnya sektor perbankan Indonesia.

 

Bentuk usaha lain dari pemerintah untuk mencegah semakin terpuruknya sistem perbankan akibat krisis perbankan 1997, adalah dengan melakukan program stabilisasi dan reformasi menyeluruh. Depresisasi kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional menyebabkan terjadinya penarikan dana secara besar-besaran oleh masyarakat. Sehingga banyak bank yang mengalami krisis likuiditas (mismatch), yang disertai oleh krisis likuiditas perekonomian secara keseluruhan (liquidity crunch). Dampak dari krisis likuiditas pada perbankan ini adalah dilakukannya likuidasi (pencabutan izin usaha) terhadap 16 bank oleh pemerintah pada tanggal 1 November 1997.[3] Selain melakukan likuidasi terhadap 16 bank, pemerintah juga membekukan operasi 67 bank swasta nasional yang dilakukan sejak 1997–2000, bank take over (pemerintah mengambil alih kepemilikan 13 bank swasta nasional), melakukan merger terhadap 4 bank pemerintah menjadi Bank Mandiri dan 9 bank take over menjadi Bank Danamon, serta melakukan program rekapitalisasi (total biaya rekapitalisasi hingga akhir 2001 adalah Rp 660 triliun  atau 73 persen dari PDB).[4]

 

Salah satu program pemerintah dalam proses pemulihan iklim perbankan adalah program rekapitalisasi perbankan. Rekapitalisasi merupakan suatu program darurat penyuntikan modal agar bank sakit memenuhi kriteria tertentu untuk tetap hidup. Kriteria tersebut adalah pemenuhan ketentuan capital adequacy ratio (CAR), yang menunjukkan rasio modal dengan aktiva tetap menurut risiko (ATMR). Program ini merupakan bagian dari paket restrukturisasi perbankan yang bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan permodalan sektor perbankan sehingga dapat menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik. Berdasarkan hasil peninjauan yang mengikutsertakan peninjau independen dari IMF, Bank Dunia, dan ADB (Bank Pembangunan Asia), diputuskan bahwa semua bank BUMN ikut dalam program rekapitalisasi. Divestasi pertama dilakukan pada Bank Central Asia (BCA) pada 14 Maret 2002, sehingga 51 persen saham BCA dimiliki oleh Farallon Capital Management LLC. Program divestasi terhadap investor asing selanjutnya tidak hanya dilakukan pada bank-bank swasta nasional lainnya yang direkapitalisasi (Bank Central Asia (BCA), Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia (BII), Bank Niaga, LippoBank, dan PermataBank) tapi juga pada bank swasta nonrekap (Bank NISP, Bank Buana, Bank Bumiputera, dan Bank Century).

 

Program divestasi telah mendorong berkembangnya kepemilikan asing terhadap aset di industri perbankan di Indonesia, sehingga persaingan perbankan di Indonesia saat ini sudah menembus batas-batas kepemilikan. Bank-bank swasta yang didivestasi sudah dimiliki pihak asing, tapi statusnya masih bank swasta. Diantara alasan yang mempengaruhi investor asing untuk membeli saham bank-bank di Indonesia (InfoBank: 2005), adalah:

1.            Harga saham bank rekap terlalu murah dan tanpa risiko karena masih memiliki obligasi rekap, serta tingkat keuntungan bank-bank di Indonesia relatif besar

2.            Pasar perbankan di Indonesia masih relatif besar, khususnya pasar kredit konsumen yang luas, karena penduduk dan potensinya

3.            Pasar perbankan, khususnya pasar Singapura mulai sulit berkembang dan Indonesia merupakan bagian dari strategi besar Singapura di Asia Pasifik. 

 

Tabel 1. 1

Kepemilikan saham silang di industri perbankan Indonesia

 

No.

 

Pemegang Saham

 

Nama Bank

Persentase Kepemilikan (%)

Aset

DPK

Kredit

 

30 September 2005 (Juta Rupiah)

1

Negara Republik Indonesia

PT Bank Negara Indonesia

99,11

147.675.083

111.767.759

63.190.696

 

(termasuk kepemilikan via.

PT Bank Rakyat Indonesia

58,93

113.397.161

90.201.088

72.738.021

 

Menteri keuangan atau PT.PPA)

PT Bank Tabungan Negara

100,00

27.936.066

18.149.076

14.495.634

 

 

PT Bank Mandiri Tbk.

69,19

250.341.203

186.450.397

106.682.952

 

Total/rata-rata

 

 

539.349.513

406.568.320

257.107.310

2

Temasek Group

 

 

 

 

 

 

Asia Financial (Indonesia) Pte. Ltd.

PT. Bank Danamon Tbk.

69,62

65.978.695

43.386.861

36.515.520

 

Sorak Financial Holding Pte. Ltd.

PT. Bank International Indonesia Tbk.

56,79

49.174.347

35.995.668

21.223.921

 

The Development Bank of Singapore Ltd.

PT. Bank DBS Indonesia

99,00

9.588.371

5.913.216

5.706.6.1

 

Total/Rata-rata

 

 

124.741.413

85.295.745

63.446.042

3

Standard Chartered

Standard Chartered Bank

100,00

24.906.501

15.514.123

8.193.593

 

 

PT.  Bank Permata Tbk.

31,55

33.697.327

26.404.143

21.550.598

 

Total/Rata-rata

 

 

58.603.828

41.918.266

29.744.042

4

United Overseas Bank Ltd. Singapura

PT. Bank UOB Indonesia

99,00

3.198.027

2.258.446

1.584.657

 

 

PT. Bank Buana Indonesia Ltd.

53,00

15.857.781

12.391.002

10.219.362

 

Total/Rat-rata

 

 

19.055.808

14.650.448

11.804.019

5

OCBC Overseas Investment Pte. Ltd.

PT. Bank OCBC Indonesia

99,00

2.082.328

771.987

998.763

 

 

PT. Bank NISP Tbk.

70,66

19.576.031

15.625.401

12.611.689

 

Total/Rata-rata

 

 

21.658.359

16.397.388

13.610.452

6

Khazanah Nasional Berhad

 

 

 

 

 

 

Commerce Asset – Holding Berhad

PT. Bank Niaga Tbk.

63,35

39.274.654

30.658.464

27.871.314

 

Santubong Investment BV

PT. Bank Lippo Tbk.

52,05

27.532.632

7.351.970

24.205.129

 

Total/Rata-rata

 

 

66.807.286

38.010.434

52.076.443

7

PT.Aditirta Suryasentosa

PT.Bank Haga

40,00

3.035.704

2.713.813

1.783.423

 

PT.Antarindo Optima

PT. Bank Hagakita

40,00

987.281

864.750

728.663

 

PT.Antariksabuana Citanegara

 

20,00

 

 

 

 

Total/Rata-rata

 

 

4.022.985

3.578.563

2.512.086

Sumber: Investor, 139, 24 Januari–6 Februari 2006

 

Dominasi pihak asing yang semakin meningkat ini membuat para pemodal asing tersebut menjadi pemilik mayoritas di beberapa bank nasional. Investor asal Singapura dan Malaysia merupakan pemilik mayoritas di beberarapa bank di Indonesia. Pada 30 September 2005, Temasek Group (perusahaan investasi dari Singapura) menguasai 69,62 persen saham PT Bank Danamon Tbk, 56,79 persen saham paad PT Bank Internasional Indonesia Tbk, dan 99,00 persen  saham pada PT Bank DBS Indonesia Tbk. Sementara itu Khazanah Nasional Berhad  (lembaga keuangan dari Malaysia) menguasai 63,35 persen saham pada PT Bank Niaga Tbk, dan 52,05 persen saham pada PT Bank Lippo Tbk. Kepemilikan aset bank nasional oleh pihak asing menjadi semakin meningkat sejak dikeluarkannya peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 10 tahun 1999 tentang pembelian saham bank umum. Di dalam peraturan tersebut, pihak asing diperbolehkan memiliki saham pada bank nasional hingga 99 persen dari jumlah saham pada bank tersebut.  

Seperti yang terlihat pada tabel 1.1, bahwa satu perusahaan asing bisa menguasai lebih dari satu bank nasional. Seperti Temasek Group (pemegang saham mayoritas pada PT Bank Danamon Tbk. dan PT. Bank Internasional Indonesia Tbk.) dan Khazanah Nasional Berhard (pemegang saham mayoritas pada PT Bank Niaga Tbk. dan PT Bank Lippo Tbk.). Hal tersebut menunjukkan adanya kemudahan bagi pihak asing untuk menjadi pemilik mayoritas diperbankan nasional pada saat itu. Keberadaan pihak asing dalam perbankan nasional tentunya memberikan pengaruh bagi perkembangan perbankan di Indonesia, baik pengaruh positif ataupun negatif.

Fenomena semakin meningkatnya kepemilikan asing terhadap aset perbankan di beberapa bank di Indonesia ini menarik untuk diteliti, sebagian pihak menganggap bahwa keberadaan pihak asing dalam industri perbankan nasional perlu dibatasi. Namun, berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa untuk negara–negara berkembang pihak asing berperan dalam meningkatkan produktivitas perbankan domestik. Jika dengan semakin meningkatnya kepemilikan asing dalam perbankan domestik mampu meningkatkan produktivitas bank yang didominasi asing, kemudian mengapa dibutuhkan pembatasan terhadap kepemilikan asing dalam industri perbankan domestik. Apakah kepemilikan asing terhadap aset perbankan di Indonesia yang semakin meningkat juga meningkatkan kinerja dan produktivitas perbankan nasional. Penelitian ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan–pertanyaan tersebut. Dengan dilakukannya penelitian terhadap kondisi ini akan diketahui pengaruh meningkatnya kepemilikan asing terhadap kinerja industri perbankan di Indonesia. Kepemilikan terhadap aset perbankan menentukan kemampuan bank-bank di Indonesia untuk dapat bertahan dalam persaingan domestik maupun asing. Selain itu dengan dilakukannya penelitian terhadap permasalahan ini, akan diketahui perlu atau tidaknya pemerintah melakukan pembatasan terhadap liberalisasi perbankan.



[1] Berdasarkan pada sejarah perbankan dalam Cyber Museum BI, www.bi.go.id.

[2] Berdasarkan pada sejarah perbankan dalam Cyber Museum BI, www.bi.go.id

 

[3] Berdasarkan pada Sejarah Perbankan dalam Cyber Museum BI, www.bi.go.id. Keputusan likuidasi diambil untuk mencegah semakin meluasnya krisis perbankan (systemic risk) dan besarnya risiko yang ditanggung masyarakat (economic cost).

[4] Makalah Seminar Privatisasi dan “Corporate Governance” yang disampaikan oleh Sigit Pramono (Direktur Utama Bank BNI), Dies Natalis Ke–51 FE UGM & Ke–11 MEP UGM.

 

Satu Tanggapan

  1. nice blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: